Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Bersama Mereka



Pada suatu permulaan malam, kita bertemu. Seakan sudah kenal dekat dan semua mengalir begitu saja setelah jabat tangan. Nama, asal, jurusan, dan lain-lainnya. Berujar canda, melontar tawa, sembari merencanakan 38 hari ke depan. Tidak ada rasa ketidakcocokan, yang ada cukup harmoni persaudaraan. Meski awalnya, aku sempat ragu apakah bisa melalui hari-hari itu bersama kalian. Berdelapan kita. Mengingat, akan ada kewajiban-kewajiban yang sejenak aku tinggalkan. Meski akhirnya, aku bersyukur, Tuhan mengelompokkan kita.
Kita tidak pernah berkonflik, hanya riak-riak kecil, batu-batu kecil, angin-angin kecil, atau apalah bahasanya. Wajar. Kita pun tidak pernah bermasalah dengan masyarakat, sekali lagi, hanya yang kecil-kecil itu saja. Kekhilafan yang lazim dimiliki manusia. Toleransi kalian boleh dibilang tinggi. Toleransi yang terkadang membuatku jengah, lantaran itu membuat irama terlalu santai. Saling tunggu-menunggu, hingga terburu-buru saat menyadari esok telah tiba. Saling memperlambat laju waktu, hingga tahu-tahu satu tanggal sudah di depan mata.
Boleh dibilang, kita ini gado-gado. Bukankah begitu, Kawan? Bukan semata perbedaan nama, asal, dan jurusan kita. Melainkan juga profesi dan keseharian kita. Ada comic stand up, ada fotografer, ada komunitas mobil, ada penulis, dan ada petualang cinta. Ada yang berisik ribet, ada pendengar yang baik, ada yang suka asal melucu, dan ada pendiam aktif. Satu-satunya yang tidak akan pernah kulupa, ketika salah satu dari kalian menyebut sosok itu sebagai “manekin”. Antara ingin tertawa dan marah campur jadi satu. Tertawa karena itu memang kurang ajar lucunya, sekaligus marah karena itu kurang ajar tidak sopannya.
Tapi itulah kita, sepiring gado-gado di sebuah pedukuhan. Saling melengkapi dengan masing-masing kadar gizi. Terbayang, berpuluh-puluh tahun lagi. Ada yang berjas dokter, berjubah pengacara, berjas manajer, dan bertopi insinyur. Atau, bahkan lebih dari itu. Kita bertrasnformasi sesuai ilmu dan hobi. Apapun nanti, aku hanya bisa berpanjat doa di malam perpisahan, semoga kesuksesan menyertai kita. Semoga kebersamaan ini selalu membayangi kita. Dan semoga ketaatan kepada Sang Pencipta selalu tersemai di dalam sanubari kita, amin.

Selasa, 16 Oktober 2012

Bintang Jatuh



Buper Sekipan, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Hari survey di Pos 2. Awalnya, diri ini sangsi ketika tiga perempuan itu tiba-tiba tengadah. Berseru tentang adanya gerakan benda langit. Beberapa detik terdiam, tidak menjawab apa-apa ketika dilontar tanya.
Esoknya, kulihat sendiri dengan mata kepala. Hari H di flying camp. Sesaat sebelum pejamkan mata di dalam sleeping bag. Sejurus menatap taburan bintang sembari berbaring di semak-semak.
Bintang jatuh!
Gerakan benda langit itu begitu nyata. Tertangkap basah oleh retina. Titik putih bercahaya yang bergerak, entah ke arah mata angin mana. Bergerak meninggalkan garis putih yang berarak. Bergerak di antara taburan titik-titik bercahaya lainnya.
Make a wish, Bud!
“Jika kami berjodoh, Tuhan, pertemukanku kembali dengannya…”

Kamis, 28 Juni 2012

Hadiah untuk Smashy



Hanya ini yang bisa kupersembahkan padamu…
* * *

Adakah teman-teman memiliki benda kesayangan? Sadar atau tidak, pasti ada. Tentu kita menjadikan benda itu sebagai kesayangan dengan alasan yang beragam. Ada yang karena pemberian seseorang, karena didapatkan dengan hasil keringat sendiri, atau karena benda tersebut memiliki nilai historis yang unik. Seperti benda kesayangan milik saya, sebuah “kuda besi biru” yang telah membawa saya berpetualang sejak tahun 2009.
Smashy, sebut saja demikian. Ialah saksi bisu perjalanan saya selama menetap di Kota Jogja. Ia yang paling tahu ke mana saja saya pergi. Ia yang paling tahu tempat-tempat yang saya datangi. Mulai dari semua kampus UII, mengantar dagangan bulik ke RS PKU, tempat jualan bude di Sunmor UGM, praktikum di Pabrik Primissima yang pernah sekalian jalan-jalan ke Ketep Pass, masa-masa survei ke Buper Sekipan dan WW Mojosemi, saat hunting ke Ponorogo dan Borobudur, malam tahun baru di Masjid Gedhe Kauman, dan tempat-tempat lainnya.
Ia, si kuda biru Smashy, tahu semuanya dalam diam.
Bahkan saat erupsi Merapi tahun 2011 lalu, ia yang paling tahu bagaimana saya membawanya menerjang hujan abu vulkanik di sepanjang ring road. Meski pasir silika itu bisa merusak dirinya, tapi ia mau saja menjawab rasa penasaran saya seperti apa hujan abu vulkanik itu. Hingga saya berpikir, siapa yang sungguh tidak berperasaan kala itu…
Smashy juga paling tahu siapa saja yang pernah menjadi boncengan saya. Namun, pembahasan mengenai hal ini biarlah cukup sampai di sini, tidak perlu dirinci.
Tak kenal waktu, ia selalu siap mengantar saya. Entah dini hari buta atau tengah malam sekalipun. Cuaca juga bukan halangan. Panas terik dan hujan deras, ia tetap setia. Meski kadang saya enggan membersihkannya, atau mengulur-ulur waktu ketika tiba waktu check up (baca: servis). Meski terkadang saya agak mengumpat ketika salah satu kakinya harus tertusuk benda tajam. Satu yang kadang saya tidak mengerti, kenapa ia begitu lemah saat harus membawa saya di jalan menanjak. Segala sesuatu memang ada kelebihan dan kekurangan. Saya memaklumi sekali kekurangannya yang satu ini.
Mungkin kebersamaan ini tinggal setahun-an lagi. Dan untuk tahun-tahun yang telah lewat, saya hanya bisa berucap terima kasih. Kamu begitu berarti, Smashy… Tidak ada yang bisa kupersembahkan padamu, selain stiker ini. Sebuah penanda yang menunjukkan identitas pemilikmu.
Semoga kau menyukainya. :)

Selasa, 05 Juni 2012

Berakhir di Jogja


Sekali lagi, keinginan tidak sejalan dengan kenyataan.
* * *

“Kenapa harus Bandung?”
Pertanyaan itu perlahan mengusik batin saya. Ya, begitu banyak pabrik tekstil di Jawa Tengah, khususnya di sekitar wilayah Solo, namun kenapa saya tetap ingin di Bandung. Ada apa di sana? Adakah suatu hal yang istimewa? Sebenarnya, tidak ada apa-apa. Sebab alasan saya memilih Bandung sebagai lokasi kerja praktek (KP) cukuplah sederhana saja: saya ingin berbeda, lain dari yang lain.
Di semester lalu, jauh hari sebelum key-in, saya sudah bolak-balik ke Perpustakaan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Bukan, saya bukan anak rajin yang lantas ke sana hanya untuk berkutat dengan lembar demi lembar kertas buku. Melainkan ada satu rak di ruang referensi yang saya datangi hampir saban hari. Membuka-buka bundel laporan-laporan KP milik kakak kelas, alias laporan-laporan KP terdahulu.
Riset awal saya sampai pada suatu kesimpulan, yakni daftar pabrik (perusahaan) yang pernah kakak-kakak kelas saya jadikan lokasi KP. Sekilas pun saya tahu, beberapa alumni ada di sana, sehingga riset kasar saya itu juga sampai pada suatu hipotesis: koneksi orang dalam. Hipotesis itu pun berlanjut menjadi analisis, bahwa seperti ada rayon-rayon yang terarah. Rayon yang saya maksud bukan serat sintetis, melainkan jalur seperti pengertian SD anu rayonnya ke SMP anu.
Selepas riset tersebut, saya berselancar di dunia maya. Saya juga berenang dalam daftar perusahaan tekstil yang pernah teman saya berikan. Akhirnya, saya membaca bahwa Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah pusat dari sebaran pabrik tekstil di Indonesia. Waktu itu, saya belum tahu jika yang paling banyak adalah di Jawa Barat. Mungkin lantaran di perpus kebanyakan pabrik-pabrik di Jawa Tengah.
Akhirnya, perjalanan saya berhenti di sana. Sebuah lokasi penuh nuansa hijau, sebut saja “A”. Saya buat proposalnya dan meminta surat pengantar ke Bagian Pengajaran. Dan amplop besar coklat itu terkirim melalui Tiki ke alamat yang dimaksud. Seingat saya, saat itu awal Maret 2012. Seminggu berselang, jawaban pun datang, “Saya rasa tidak ada masalah di bulan itu, kalau sempat nanti ke sini dulu saja.”
Girang bukan kepalang. Terlebih saat itu baru saya yang sudah “pasti” diterima. Pasti dalam tanda kutip karena baru diketahui secara lisan, belum ada hitam di atas putih. Ketika ada waktu sela, saya berangkat ke Bandung. Senyum-senyum sepanjang perjalanan. I come to you, Bandung… Namun, senyum itu esok harinya menjelma muram. Mengganjal dalam hati. Untuk sekian penjelasan yang tidak perlu saya ekspos, saya “ditolak”. Kalimat-kalimat yang berputar-putar itu pada intinya saya tahu, saya dianggap sebagai “ancaman”, dikhawatirkan mengganggu produktivitas. Lalu, kenapa saat di telepon Anda mengatakan “tidak ada masalah”...?
Siang itu juga, saya diajak paklik berkeliling ke lokasi lain. Lokasi yang lebih variatif: sepanjang Jalan Rancaekek. Ada pabrik serat sintetis, pencelupan, pertenunan, dan juga sektor yang paling banyak “ditanamkan” di kepala saya selama ini: pemintalan. Saya berpesan kepada paklik untuk tidak membawa saya ke tempat-tempat berbau pemintalan kapas. Bosan. Namun demikian, lagi-lagi jawaban yang saya terima senantiasa sama. Pintu demi pintu yang saya datangi kembali memberikan jawaban yang nyaris serupa, “Selama ini belum ada, Dik, bukannya kami tidak ingin, hanya saja nanti tidak ada yang membimbing, kami kan juga mengejar target produksi.”
Bandung.., oh Bandung.., segitu sensitifnya soal “produktivitas”….
Sore harinya, kami pun pulang ke Cibiru. Lelah. Sepeda motor hitam biru itu jadi saksi perjalanan kami satu hari tadi. Malam harinya sebelum naik Budiman, paklik berujar akan mencoba mengusahakan lewat orang dalam. Paklik dan bulik ternyata memiliki kenalan orang dalam. “Kalau tahu kamu mau di Bandung, saya bilang ke teman saya, Bud,” kata paklik. Iya sih, salah saya juga tidak koordinasi dengan paklik.
Di kampus, saya bicarakan apa yang saya alami di Bandung kepada Pak Sekjur. Beliau menawarkan alternatif, seperti ke “C” atau ke “S”. Saya putuskan untuk menunggu kabar dari paklik. Beberapa hari setelah itu, kurang lebih ada empat sampai lima nama yang ditawarkan paklik untuk saya. Saya pilah-pilah, ada yang pabrik poliester, ada pabrik embroidery, ada pabrik rajut, dan ada juga pabrik tujuan utama saya: pencelupan. Saya mulai dengan “P”, saya kirim data-data yang diminta via e-mail. Beberapa minggu berselang: penolakan. Saya coba lagi dengan “W”, kali ini saya kirim data-datanya via pos, terlebih paklik bilang yang ini sudah pasti menerima. Satu lagi ada “V” yang juga menerima, tetapi saya pilih “W” karena “V” itu modelnya ada juga di Jogja.
Dan penolakan itu terjadi lagi, namun kali ini bukan soal produktivitas. Ada teman dari kampus lain yang juga mengajukan ke sana, perusahaan lebih memilih dia daripada saya. Karena dia dari kampus Bandung dan saya dari kampus Jogja? Ah, tidak tahu juga. Waktu itu sudah masuk akhir Mei 2012. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih mengingat bulan Juli sebentar lagi. Saya pun menghadap Pak Sekjur, mengutarakan niat saya untuk di Jogja saja, di “J”, berdua bersama teman satu kelas. Sebelumnya, beliau juga menyarankan ke beberapa tempat, sama seperti saya dari Bandung kemarin, dipilihkan di Semarang atau Purwakarta. Namun saya memilih untuk di Jogja saja. Pencarian ini akan berakhir di Jogja.
Paklik sebenarnya masih menawarkan opsi lain, ke “B” dan ke “S”. Tapi saya sudah capek, lelah ditolak sana-sini. Kalau ditolak dalam hitungan hari masih mungkin dilanjut, tapi ini ditolak dalam hitungan minggu. Harus berapa minggu lagi saya lalui dengan ketidakpastian. Terlebih saya juga tidak enak dengan jurusan karena bolak-balik kabar ini-itu tapi nyatanya ditolak juga. “Ke yang pasti-pasti saja,” nasihat itu menggema di sistem audio saya.
Pupus sudah harapan untuk berbeda, menjadi beda untuk sesuatu yang baru. Jika dipikir-pikir, toh tidak hanya saya yang mengambang begini. Teman-teman saya juga sama, masih pada mengambang. Belum sampai ke tepian. Lantas, inikah yang dimaksud tekstil membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang fresh? Inikah yang disebut tekstil butuh tenaga-tenaga baru untuk mengimbangi tenaga asing?
“Kayaknya tiap perusahaan punya formulasi tersendiri yang tidak boleh dipublikasikan, itu sulitnya. Oleh karena itu, alasannya macem-macem. Saya udah menemui managernya, tapi keputusan ada di tangan direktur/bosnya. Coba nanti setelah selesai kuliah, kamu coba bikin lamaran kerja, pasti beda,” hibur paklik menanggapi kandasnya impian “kecil” saya. Kelak, saya saksikan apakah ada beda antara status “mahasiswa” dengan status “sarjana”. Apakah cita-cita saya berkontribusi tekstil mendapat respon negatif ataukah positif…
Selasa, 29 Mei 2012. Surat jawaban itu syukurlah sudah di tangan saya. Hitam di atas putih itu kini nyata, bukan lagi sebatas awang-awang. Saya sudah sampai ke tepian, tak lagi mengambang. Tidak ada lagi kata tidak ada pembimbing. Tidak ada lagi kata mengganggu produktivitas. Tidak ada lagi kata nanti saya bicarakan dulu dengan pimpinan. Sekarang, semuanya jelas, nyata. Sampai jumpa, 02 Juli 2012.

Minggu, 25 Maret 2012

46 Jam di Omah Petroek



Pernah kubaca kalimat itu sebelumnya, dalam bahasa tulis, tertempel di salah satu dinding ruangan Gedung UII Cik Di Tiro. Lalu kudapati kembali di sana, dalam bahasa lisan, di Pondok Zoutmulder, Omah Petroek: verba volant, scripta manent.
* * *

Semua berawal dari waroeng kopi "S" di dekat Jembatan Kleringan, Kota Jogja. Malam itu, kami berdua – saya dan seorang teman – sedang menyebarkan poster kegiatan lembaga mahasiswa. Pikiran saya sampai ke situ karena dulu bersama beberapa kawan pernah menghabiskan malam di sana. Setelah mendapatkan izin, kami menuju papan pengumuman. Sebelum menempel poster, anak mata saya menangkap poster lain yang sejurus kemudian kata-katanya menari dalam benak saya.
Menggoda jari jemari saya untuk segera menari pula.
Poster yang di waroeng kopi "S"
Ada tiga nama media di bagian bawah poster itu yang sudah berhasil menggoda saya: Kompas, Basis, dan Suara Muhammadiyah. Tepat tanggal 09 Maret 2012, sebelum shalat Jum’at, di gazebo Perpustakaan Kota Jogja saya selesaikan resensi itu. Sebuah buku karangan salah seorang jurnalis negeri ini. Dan.., klik! Tulisan yang menjadi persyaratan itu terkirim juga. Tinggallah saya menunggu hari pengumuman tiba.
Singkat cerita, saya lulus seleksi dan berhak mengikuti pelatihan. Hal lain yang lebih membuat senang adalah ada dua teman yang juga lulus seleksi. Kami bertiga; dua orang ikut pada gelombang pertama yang berjumlah 37 peserta dan satu lagi di gelombang kedua bersama 35 lainnya seminggu berselang. Saya kebagian yang gelombang pertama pada tanggal 23-25 Maret 2012. Alhamdulillaah…
Omah Petroek, Karang Klethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Kami berdua mula-mula kesasar mencari alamat tersebut. Tersesat sampai Pos Masuk Kaliurang jika melewati jalan arah Museum Gunung Merapi. Saya hitung sore itu ada empat kali kami bertanya kepada orang-orang sekitar. Dengan setengah ragu, akhirnya sepeda motor kami masuk ke jalan kecil yang terletak di antara pepohonan kelengkeng. Setengah ragu karena jalan itu sama sekali tidak menandakan ada sebuah pondokan di ujungnya.
“Hah, ini..?” tanya kami sangsi begitu melihat sebuah rumah kecil di antara pepohonan. Kesan pertama: horor. Namun, kesan itu perlahan terkikis ketika kami saksikan bangunan di belakangnya. Ada sebuah pendapa besar dengan dua arca di depannya yang bernama Pondok Zoutmulder. Setelah registrasi, kami dipersilakan menaruh barang di kamar. Dan kamar itulah yang secara total menghapus rasa sangsi kami tadi, mengubahnya menjadi decak kagum.
Empat pondok seperti rumah panggung, itulah yang disebut kamar. Pondok-pondok yang makin semarak dengan rindangnya pepohonan bambu. Masing-masing pondok sudah tertera nama penghuninya, nama para peserta pelatihan. Dua pondok untuk peserta putra dan dua pondok untuk peserta putri. Ada kran air di depan setiap pondok. Di sekitar pondok juga terdapat sebuah surau dan beberapa pendapa kecil. Dari salah satu pendapa itu, tampak bahwa Omah Petroek terletak bersebelahan dengan Kali Boyong yang masih diselimuti material pasir dan bebatuan sisa lahar dingin Merapi.
Saya habiskan sekitar 46 jam waktu yang dianugerahkan Tuhan di Omah Petroek. Mengisinya dengan belajar dan berlatih menulis bersama dengan teman-teman dari beragam latar belakang (baca: perguruan tinggi). Ada yang dari UGM, UCY, UNY, UPY, UTY, Atma Jaya, Sanata Dharma, UIN Suka, UAD, ISI, dan kami berdua mewakili UII. Banyak dari mereka yang mengambil jurusan noneksakta, seperti Sejarah, Sastra, Sosiologi, dan lain sebagainya, tapi itu bukan masalah bagi beberapa dari kami yang mengambil prodi eksakta.
Stempel name tag kami saat di lapangan
Berpikir Kritis menjadi materi pembuka pada malam hari, saya tahu betul materi itu di Himmah lebih dikenal dengan “ansos” atau Analisis Sosial. Esok harinya, setelah jalan pagi, secara sambung-menyambung kami diajarkan bagaimana menulis Berita, Opini, dan Resensi. Kami juga dikenalkan dengan Kompas Kampus dan Kompas Muda. Malam harinya sebagai materi penutup, yaitu cara menulis Feature. Semua materi disampaikan oleh mereka yang sangat kompeten di bidangnya, ahli-ahli dari Kompas, Basis, dan Suara Muhammadiyah, beliau-beliau yang sering menulis di media massa.
Selesai itu, kami melakukan permainan di sekeliling api unggun. Ada permainan menghafal nama, mengurutkan dengan barisan, rujakan, sampai menyanyikan lagu yang syair-syairnya dihilangkan. Tidak usah pusing bagaimana mainnya, yang penting celetukan-celetukan yang muncul selalu saja bisa membuat kami tertawa, sama seperti ketika outbond Himmah di Banyu Sumilir beberapa pekan lalu. Pada akhirnya, sama pula dengan outbond Himmah yang dihubungkaitkan dengan tugas-tugas jurnalistik, setiap permainan tersebut dihubungkaitkan dengan dunia tulis-menulis. Bahwa menulis itu perlu mengenal apa yang akan ditulis, menulis itu membantu melatih berpikir runut, menulis itu harus rela berisiko selalu teringat yang belum ditulis, serta menulis itu butuh perbendaharaan kata dan fokus kecermatan.
Hari terakhir pun tiba. Setelah seharian sebelumnya kami dibekali sejumlah materi di Pondok Zoutmulder, hari Minggu itu kami isi dengan praktik lapangan. Kami mencari data-data di lapangan untuk selanjutnya diolah menjadi sebuah tulisan. Hmm.., saya seperti mengikuti IHT (In House Training) Himmah Jilid II saja, hehe.. Di akhir kegiatan, kami ber-31 (tidak semua datang 37) membentuk forum untuk membahas agenda kami pascapelatihan: meneruskan shillaturrahim ini melalui social media dan mengadakan pertemuan berkala.
Dalam perjalanan pulang, kembali saya berucap syukur. Teringat beberapa tahun lalu saat sebuah organisasi kepenulisan yang cukup ternama, yang terdiri dari orang-orang PTN, menolak saya. Ah.., Tuhan baik sekali, Ia menggantinya dengan yang lain.. Di samping itu, saya pun beroleh pelajaran bahwa menjadi manusia itu jangan cepat puas. Sekali diterima jangan lantas berbangga diri. Menjadi manusia itu pun jangan mudah putus asa. Sekali ditolak jangan lantas berhenti diri. Proses akan terus berlangsung dan jalan menuju puncak itu tidak seketika. Dan yang terpenting, “Yang terucap akan berlalu bersama angin, yang tertulis akan tetap abadi.”


NB. Ternyata, minimal 800 kata itu kurang lebih sepanjang ini, huft..

Minggu, 01 Januari 2012

Merayakan Tahun Baru


Pergantian tahun baru miladiyah atau tahun baru masehi selalu dirayakan dengan penuh suka cita. Hampir setiap tempat di penjuru dunia, termasuk Indonesia, tidak mau ketinggalan dalam menyambut datangnya hari baru tersebut. Semua berlangsung semarak dan meriah, mulai dari bunyi terompet, pentas seni, hingga nyala kembang api. Semua juga berlangsung syahdu dan khidmat, seperti pengajian refleksi tutup tahun, hingga doa dan dzikir bersama.
Sejak duduk di bangku TK hingga menjadi seorang mahasiswa, saya ikut terbawa euforia perayaan tahun baru. Mulai dulu yang hanya tiru-tiru tiup terompet, sampai sekarang yang sudah mengerti apa itu target dan tujuan.
Masa TK
Saat pergantian tahun baru, ibu membelikan dua terompet untuk kami. Satu untukku dan satu untuk adik laki-lakiku. Kami berempat, bersama dengan Yuk Narti, hidup di sebuah rumah petak di Jalan Batujajar, Malang. Kami ikut ibu yang tengah melanjutkan studi di Kampus UMM. Maka, tahun baru kala itu hanya kami isi dengan sebatas “toet-toet” saja. Sederhana.
Masa SD
Enam tahun menikmati masa kecil di Palembang, tahun baru tetap kami rayakan dengan ‘ritual’ tiup terompet. Beberapa hari jelang ganti tahun, ibu akan membonceng kami berkeliling mencari terompet. Terkadang, ibu mengajak kami potong rambut dulu, baru setelah itu mencari mamang penjual benda kerucut itu. Tahun-tahun berikutnya, kami mulai merayakannya pula dengan kembang api. Bapak yang bertugas untuk membeli kembang api tersebut. Kami berdua menghidupkan kembang api, dan adik perempuanku yang ketika itu masih balita ikut menyaksikan pendar-pendarnya dari gendongan bapak.
Masa SMP dan SMA
Di sebuah ‘istana Hogwarts’ bak kisah Harry Potter: Ma’had Al-Zaytun. Istana seluas dua ratus hektar yang terletak di hutan Mekar Jaya dan dikelilingi pagar Abu Nawas. Aku memulai hari-hariku di sana pada tengah tahun 2002. Dan mulai tahun baru 2003, 2004, hingga 2008, tahun baruku selalu diisi dengan acara yang sama, yaitu apresiasi seni yang ditutup dengan taushiyah Syekh. Beliau membunyikan sirine panjang yang disambut dengan tepuk tangan riuh sebagai pertanda tahun baru telah tiba. Ah, aku jadi ingat, beberapa kali aku pernah ikut mengisi apresiasi seni tersebut sebagai salah seorang pegiat seni sastra. Kenangan.
Masa Setelah ‘Nyantri’
Tengah tahun 2008, aku lulus dari titel ‘santri’. Tahun 2009 adalah kali pertamaku merayakan tahun baru tidak lagi di Gedung Al-Akbar, namun di rumahku sendiri yang bertipe 90 di Palembang. Aku menonton rangkaian film Harry Potter yang sudah diputar sejak beberapa hari sebelumnya di Bioskop TransTV. Dipandu oleh host Mieke Amalia dengan iklan Sunsilk-nya. Mulai dari Harry Potter and The Sorcerer’s Stone sampai dengan Harry Potter and The Goblet of Fire yang diputar tepat tanggal 31 Desember 2008. Setelah itu, aku menonton ‘tarian’ kembang api di berbagai tempat, tentunya dari pesawat televisi.
Tahun 2010. Saat itu, Bioskop TransTV sebenarnya kembali memutar rangkaian film, waktu itu gilirannya Spiderman. Mbak dan Mas sepupuku yang di Condongcatur berencana menontonnya, kami bertiga mau nonton bareng. Namun, kurayakan tahun baru itu dengan bakar jagung bersama teman-teman Teknik Kimia UII 2009. Kami bakaran biasa saja, lalu meneruskan obrolan di warung burjo. Barulah menjelang shubuh, satu per satu dari kami pulang ke rumah/kos masing-masing.
Tahun 2011 kurencanakan mengikuti pengajian tutup tahun bersama Pak Amien Rais di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Sementara ketujuh teman Tekstil 2009-ku meluncur ke Solo Baru, aku memilih untuk melajukan Smash Biru ke daerah Kauman. Bodoh. Aku baru keluar rumah sekitar jam 8 malam dan malah terjebak macet. Merayap. Gagal sudah mendengar ceramah Pak Amien, sudah terlanjur hilang selera. Polusi. Huft… Aku pun pulang ke Sonopakis.
Tahun 2012
Awalnya, aku dan ‘dia’ hanya ingin menonton Pentas Seni Budaya bertajuk “Klangenan Jogja” di Kawasan Nol Kilometer. Kurang lebih jam lima sore, kami meluncur ke TKP. Ternyata, ada juga Pasar Malam Perayaan Sekaten di Alun-alun Utara. Lalu, ada pula Pengajian Refleksi Tutup Tahun yang diisi oleh Pak Amien Rais dan Pak Busyro Muqoddas di Masjid Gedhe Kauman.
Jadilah malam itu, kami satu paket saja menghadiri ketiganya. Setelah maghrib-an, kami ke Pasar Malam lebih dulu. Berjalan sana-sini, lalu naik bianglala mini, dan makan soto ayam di salah satu warung. Kemudian, ‘dengan sotoynya’ aku ‘memimpin jalan’ ke daerah Nol Kilo. Eh, malah nyasar sampai ke Jalan Ibu Ruswo. *koplak
Setelah berenang dalam lautan manusia dan menemukan jalan kebenaran, kami tiba juga di sana. Kupikir, pentas menggunakan Bahasa Jawa Kromo, nyatanya memakai Bahasa Jawa sehari-hari, jadi aku pun sedikit mengerti apa yang dilakonkan. Setelah dirasa cukup, kami kembali melangkah ke Masjid Kauman.
Sesampai di sana, kami mengisi buku hadir. Kami mendapatkan souvenir berupa Buku Saku Hijau tentang Korupsi menurut Islam, serta stiker dan pin yang bertuliskan “Jujur Itu Hebat”. Ketiganya lengkap dengan logo KPK. Kami juga mendapatkan air mineral gelas dan roti isi coklat.
Setelah pengajian usai dan sempat melihat Hanum Rais lewat di depan kami bersama Rangga suaminya (lho?), kami ikut melaksanakan Shalat Lail berjamaah sejumlah raka’at Shalat Tarawih dan Witir, sekitar jam 11 malam. Sang imam melantunkan QS. Ash-Shaff dan QS. ‘Abasa di putaran kedua, seolah mengingatkan kapan terakhir kali kuulang hafalanku.
Menjelang jam 12, shalat pun selesai. Aku segera beranjak ke pelataran masjid dan bersama’nya’ menyaksikan ‘tarian’ kembang api di langit malam Kota Jogja. “Semoga tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin,” pintaku dalam hati kepada-Nya, amien… Terakhir, kami pulang terjebak macet gara-gara ulah seorang polantas yang ‘tidak konsisten’. Tapi, kasihan juga sih melihat mereka kewalahan mengatur lalu lintas, ya udah: selamat tahun baru aja deh, Pak…