Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Notes From Bus


Kerontang dan gersang.
Pesawahan.
Pepohonan.
Pebukitan.

Lalu kusadari.
Apalah guna lagi rutuki hujan.
Kini hanya pengharapan.
Agar ia lekas datang.

Agar hijau kembali bersemi.


Dari kursi no.1 Putra Remaja
Ketanggungan, Brebes
16/09/12 – 13.58 WIB

Rabu, 20 Juni 2012

Sejumput Sesal


Andai saja ada mesin waktu
Aku ingin kembali ke masa itu
Menyelesaikan sesuatu
Yang belum selesai malam itu

Andai saja waktu bisa terulang
Satu hal yang pasti ingin kuulang
Memang tidak mudah untuk bilang
Tapi menyiksa jika tak terbilang

Ah, ini gara-gara sebuah foto
Potret yang datangkan dejavu
Bukan karena objek di foto itu
Oke, itu hanya sebuah foto

Andai saja..



Yogyakarta, 20 Juni 2012
Sambil menekuri soal UAS Metopel, 19.08 WIB

Kamis, 10 Mei 2012

Gunung Salak, Sekali Lagi


Dua ribu dua ratus dua puluh satu meter, tingginya
Antara Sukabumi dan Bogor, letaknya
Dan ini bukan kali pertama, faktanya

Ada apa, ada apa..

Di balik terjalnya tebing-tebing itu, ada apa?
Di balik semaknya kabut-kabut itu, ada apa?

Pesawat Trike PKS 098, 10 Oktober 2002
Helikopter Sikorsky S-58 Twinpac, 29 Oktober 2003
Paralayang Red Baron GT 500, 15 April 2004
Pesawat Cessna 185 Skywagon, 20 Juni 2004
Pesawat Cassa NC A212-200, 26 Juni 2008
Pesawat Latih Sundowner, 30 April 2009
Helikopter Puma SA 330, 12 Juni 2009
Pesawat Sukhoi Superjet 100, 09 Mei 2012

Pada rute yang ditetapkan, ada apa?
Pada logika penerbangan kita, ada apa?
Pada ketinggian yang bersyarat, ada apa?
Pada analisis investigasi terdahulu, ada apa?

Gunung Salak, sekali lagi
Walau kita tak ingin lagi
Semoga (esok) tak ada air mata lagi


Yogyakarta, 10 Mei 2012
Di atas sajadah, 18.59 WIB

Jumat, 30 Maret 2012

Karena Ragu

 
Asap hitam membumbung tinggi
Pecahan kaca berserakan
Batu dan bom berlemparan
Baku hantam kian tak terelakkan

Ada toko yang dirusak
Ada pom bensin yang diambil alih
Ada jalan tol yang diblokade
Ada bandara yang landasan pacunya diduduki

Dan aku tak tahu
Mana yang benar, mana yang salah
Sebab semua berawal
Dari sosok besar yang peragu


Hall FTI, 14.41 WIB

Kamis, 22 Maret 2012

Di Suatu Sudut


Di suatu sudut
Pada jendela-jendela hitam yang mematut
Pada tanya-tanya tanpa runut
Ah, tiba-tiba membuatku menciut

“Sudah kubilang,
hentikan pengembaraan itu
hentikan jari-jarimu…”

Lalu di sini sebuah raga termangu
Sebuah fikir terpaku
Pada lidah yang kelu
Pada tanya-tanya tanpa jemu
Yang tiba-tiba menggiringku pada sendu

“Mungkinkah perjalanan ini bermuara pada husnul khatimah,
sama seperti mereka lakukan…”

Dan lagi-lagi hanya terjawab sepi!

Sabtu, 17 Desember 2011

Puisi Terakhir Soe Hok Gie


Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa.
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Selasa, 11 November 1969



_______________________________
Happy birthday, to you..
Happy birthday, to you..
Happy birthday, happy birthday..
Happy birthday to you..

Soe Hok Gie
17 Desember 1942 – 16 Desember 1969
_______________________________

Jumat, 09 September 2011

Kemis, 9 September 2004

Sebuah bom meledak di depan Kedubes Australia tepat tujuh tahun lalu. Tragedi pilu yang membawa duka dan membuat luka. Betapa mengerikan daya ledak bom high explosive tersebut. Setidaknya itu yang kurasakan saat melihat sendiri sebuah foto di halaman muka salah satu surat kabar ternama. Menyaksikannya di kamar 316 FR, Ma’had Al-Zaytun.

Selepas shalat Jum’at tadi sejenak kutertegun. Ketika melepas peci dan baru saja meletakkannya ke dalam lemari. Menyadari bahwa tanggal yang tertera di puisi itu adalah tanggal hari ini. Puisi yang (dulu) diam-diam kuambil dari surat kabar ternama tadi dan kutempel di lemari kamarku di rumah Palembang. Puisi yang kini sudah tampak lusuh.

Rasanya boleh saja jika kubagi denganmu puisi itu. Tidak, bukan maksudku mengorek cerita lama yang kelabu. Aku juga tidak bermaksud memperingati Hari Olahraga dengan mengingatkanmu pada satu kisah sedih. Aku hanya ingin berbagi kata-kata indah yang lahir dari tangan salah satu sastrawan kita, sang penyair Indonesia. Dan inilah dia, puisi itu:

__________________________________________________
Kemis, 9 September 2004



Tiba-tiba 9 September 2004 pagi hari,
bom meledak lagi di ibu kota Jakarta, di Jalan Kuningan,
dahsyat menggelegar gedung kedutaan dan perkantoran
tanah dan pasir berputar, potongan besi berlontaran
mobil-mobil jadi kerangka, api mengunyahnya
imaji kacau balau yang sampai ke seluruh dunia
kekerasan, nyala, batu, asap, puing dan mayat
dalam garangnya suasana, air mata panas terasa
orang-orang berlarian ke hospital, mencari sanak saudara
dengarlah sedu sedan sebagai suara yang tiada hentinya
dan dari jauh banyak yang mengirimkan doa.

Kami tercenung, tertunduk, menitikkan air mata
bom meledak di Bali,
bom meledak di Makassar,
bom meledak di Atrium Senen,
bom meledak di Hotel Marriot,
bom meledak di tempat-tempat lain,
belum habis suara ledakan itu,
belum kunjung selesai masalahnya terselesaikan,
sudah meledak amunisi ini
dan berjatuhan korban lagi

Sehingga setiap kita melangkahkan kaki di atas bumi,
kita cemas apakah akan ada ledakan lagi,
dan kita semua bertanya,
apakah bom dapat menyelesaikan persoalan
apakah tidak akan menambah dendam?

Kini lagi kerusakan dan puing terbentang di depan kita,
kini bertambah saudara-saudara kita yang meninggal dan luka-luka,
kita semua tercenung, tertunduk, menitikkan air mata
dan masing-masing kita memanjatkan doa
semoga bangsa lepas dari semua bencana
semoga rangkaian krisis ini segera habis
semoga dendam dipendam dalam-dalam

Kepada yang memegang kekuasaan,
kita imbau agar keadilan benar-benar dilaksanakan
agar hukum lurus dan kukuh ditegakkan
karena dengan demikian dapat diredam
apapun bentuk pertikaian
dan dendam dipendam perlahan-lahan

Semoga berhentilah menetes air mata kita
dan mendung yang kelam di atas sana
pergi jauh sehingga
cahaya yang terang melimpahi bumi kita.



Taufiq Ismail
2004
__________________________________________________